Kemarin aku melihatnya di sini. Ia duduk
di bangku itu sambil menangis. Tak tau apa yang ia tangisi, tapi tetesan air
mata itu menyiratkan rasa pedih dalam hatinya. Aku menghampirinya tapi ia malah
pergi. Mungkinkah tangisnya itu adalah karena aku? Apakah karena aku
telah memutuskannya? Tapi saat itu tampaknya tidak ada masalah baginya.
"Jika memang hati kita tak bisa
lagi menyatu, mengapa kita harus memaksa? Lebih baik kita akhiri hubungan ini
secepatnya." kataku kepada Sylvia setelah sekian lama hubungan kami terasa
semakin renggang.
"Baiklah. Jika kau merasa itu
adalah pilihan terbaik, aku akan setuju denganmu. Aku mencintaimu, aku juga
tahu kau pun mencintaiku. Tapi mungkin kita tidak ditakdirkan bersama. Aku
bahagia telah mengenalmu." ujar Sylvia sembari memelukku erat. Ia kemudian
beranjak meninggalkan aku.
Sampai seharian hatiku bertanya-tanya
akan apa yang telah membebani hatinya. Entah duri apa yang telah menusuk
batinnya. Kami memang sudah putus, tapi sejujurnya aku masih mencintainya. Dan
aku takkan bisa melihat gadis yang kucintai menderita seperti itu.
"Aku duluan ya!" suara Sylvia
terdengar dari kejauhan. Sepertinya ia akan datang ke tempat ia biasa duduk dan
menatap langit. Di taman ini dia selalu datang dengan wajah cerianya, yang kini
berubah menjadi tangis.
Ya benar, aku melihatnya kembali duduk
dan menatap ke arah langit jauh. Sesekali ia menatap ke samping, ke arah dimana
aku biasa duduk menemani harinya. Dia pun mulai berkata sendiri.
"Andai kau masih di sini, kau pasti
mampu membuatku tersenyum. Kau mengatakan bahwa senyumanku adalah bahagiamu,
tapi kau juga harus tahu bahwa senyumku juga hanya akan ada dengan hadirmu di
sisiku. Tanpamu aku merasa takkan mampu tersenyum."
Dengan seksama aku mendengar semua
kata-kata Sylvia. Ternyata benar, semua kesedihannya adalah karena aku. Ketika
aku hendak menghampirinya, tiba-tiba Charlie teman sekelasnya menghampiri Sylvia.
"Masih dihantui masa lalu Syl?
Sampai kapan kau menangisi Ridwan? Kau dan dirinya takkan mungkin lagi bersama."
kata Charlie.
Tersentak kaget, aku merasa Charlie
telah berusaha menjauhkan aku dari Sylvia. Aku kemudian berlari menghampiri
mereka. Aku hendak memukul wajah Charlie, namun terkejut ketika melihat
tanganku menembus wajahnya. Aku mencoba meraih tangan Sylvia, namun tak bisa.
Berkali-kali kucoba namun tetap tak bisa. Hingga akhirnya mereka berdua
meninggalkanku sendiri. Aku sungguh tak percaya apa yang terjadi.







0 komentar:
Posting Komentar