Jumat, 21 Juli 2017

Cerpen : Apa yang Terjadi



Kemarin aku melihatnya di sini. Ia duduk di bangku itu sambil menangis. Tak tau apa yang ia tangisi, tapi tetesan air mata itu menyiratkan rasa pedih dalam hatinya. Aku menghampirinya tapi ia malah pergi. Mungkinkah tangisnya itu adalah karena aku? Apakah karena aku  telah memutuskannya? Tapi saat itu tampaknya tidak ada masalah baginya.


"Jika memang hati kita tak bisa lagi menyatu, mengapa kita harus memaksa? Lebih baik kita akhiri hubungan ini secepatnya." kataku kepada Sylvia setelah sekian lama hubungan kami terasa semakin renggang.
"Baiklah. Jika kau merasa itu adalah pilihan terbaik, aku akan setuju denganmu. Aku mencintaimu, aku juga tahu kau pun mencintaiku. Tapi mungkin kita tidak ditakdirkan bersama. Aku bahagia telah mengenalmu." ujar Sylvia sembari memelukku erat. Ia kemudian beranjak meninggalkan aku.

Sampai seharian hatiku bertanya-tanya akan apa yang telah membebani hatinya. Entah duri apa yang telah menusuk batinnya. Kami memang sudah putus, tapi sejujurnya aku masih mencintainya. Dan aku takkan bisa melihat gadis yang kucintai menderita seperti itu.

"Aku duluan ya!" suara Sylvia terdengar dari kejauhan. Sepertinya ia akan datang ke tempat ia biasa duduk dan menatap langit. Di taman ini dia selalu datang dengan wajah cerianya, yang kini berubah menjadi tangis.
Ya benar, aku melihatnya kembali duduk dan menatap ke arah langit jauh. Sesekali ia menatap ke samping, ke arah dimana aku biasa duduk menemani harinya. Dia pun mulai berkata sendiri.

"Andai kau masih di sini, kau pasti mampu membuatku tersenyum. Kau mengatakan bahwa senyumanku adalah bahagiamu, tapi kau juga harus tahu bahwa senyumku juga hanya akan ada dengan hadirmu di sisiku. Tanpamu aku merasa takkan mampu tersenyum."

Dengan seksama aku mendengar semua kata-kata Sylvia. Ternyata benar, semua kesedihannya adalah karena aku. Ketika aku hendak menghampirinya, tiba-tiba Charlie teman sekelasnya menghampiri Sylvia.
"Masih dihantui masa lalu Syl? Sampai kapan kau menangisi Ridwan? Kau dan dirinya takkan mungkin lagi bersama." kata Charlie.

Tersentak kaget, aku merasa Charlie telah berusaha menjauhkan aku dari Sylvia. Aku kemudian berlari menghampiri mereka. Aku hendak memukul wajah Charlie, namun terkejut ketika melihat tanganku menembus wajahnya. Aku mencoba meraih tangan Sylvia, namun tak bisa. Berkali-kali kucoba namun tetap tak bisa. Hingga akhirnya mereka berdua meninggalkanku sendiri. Aku sungguh tak percaya apa yang terjadi.

0 komentar:

Posting Komentar