Kamis, 20 Juli 2017

Cerpen : Kumohon Maafkan Aku


Kembali lagi aku merenungkan semua kesalahan yang telah kuperbuat. Aku telah menyia-nyiakan gadis yang benar-benar mencintaiku. Aku bahkan tak pernah menanggapi perhatiannya padaku. Berkali-kali kukecewakan dirinya, namun dia masih selalu berusaha meluluhkan hatiku. Namun apa daya, saat itu aku belum memiliki perasaan sedikitpun terhadap dirinya.


Aku merasa sangat senang ketika mendengar bahwa dia telah menjadi kekasih pria lain. Awalnya aku mengira bahwa hari-hariku akan terasa lebih tenang. Aku yakin ia takkan pernah menasehatiku untuk rajin belajar demi masa depan seperti yang biasa dikatakannya padaku. Dan benar, dia tidak lagi memperhatikanku seperti dulu. Ya, seperti kataku tadi. Awalnya aku mengira semua akan jadi lebih tenang. Maksudku, awalnya.


Setelah waktu bergulir sekian lama perlahan-lahan hidupku pun terasa semakin sunyi. Kini aku sadar bahwa satu-satunya gadis yang meramaikan suasana hariku hanyalah Sylvia. Kini dia tak mungkin memperhatikanku seperti dulu lagi. Tentu saja, kini dia lebih sibuk dengan kekasihnya.

Di tengah perasaan hatiku yang mulai menyadari akan berartinya perhatian Sylvia kepadaku, aku pun melihatnya sedang berdua dengan kekasihnya. Mereka berdua tampak sedang tertawa bahagia. Tak kusangka, kini hatiku merasa cemburu melihat mereka.

Hari demi hari berlalu dan aku pun semakin merasa menyesal akan tingkahku selama ini. Aku menyesal telah menyia-nyiakan ketulusan Sylvia kepadaku dulu. Bahkan kini aku sering merasa cemburu melihat dia dengan pria lain. Namun apa daya? Semua ini telah terjadi.

Malam ini sebelum aku berangkat ke luar kota aku hendak memberikan surat yang kutulis pada Sylvia. Aku menuliskannya dengan harapan agar Sylvia tahu kalau kini aku telah menyesali semua perbuatanku dulu padanya. Kini aku telah berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Namun sebelum aku meletakkan surat ini, aku terlebih dahulu membacanya untuk yang terakhir kali.

"Kau harus tahu. Mungkin selama ini aku telah menyakitimu. Perhatianmu padaku selalu mendapat penilaian negatif dariku. Aku merasa kalau kau hanya menggangguku saja. Aku bahkan sempat berharap untuk tidak pernah mengenalmu. Namun kini semua berbeda. Sejak kau bersamanya, hari-hariku terasa semakin pekat.

Maafkan aku yang pernah mengatakanmu bodoh berusaha memikat hatiku. Kumohon maafkan aku yang selama ini berusaha menjauh darimu. Kini aku sadar bahwa kau adalah gadis yang paling indah. Namun saat aku baru menyadari semua ini, kau telah menjadi miliknya.
Jangan pernah berfikir untuk kembali mencintaiku. Akan ada hati yang terluka karenanya. Tapi setialah kepada dirinya, sebab aku juga melihat ketulusan yang terpancar dari wajahnya padamu. Mungkin aku takkan bisa melupakanmu. Ya, bagaimana mungkin aku melupakanmu, sedang yang ada dalam ingatanku hanyalah ketulusan yang selalu kau beri padaku.

Oleh karena itu aku telah memutuskan untuk menjauh darimu. Walau aku tahu aku akan menderita bila jauh darimu, tapi akan tetap kulakukan. Sebelumnya kau telah menderita karena tingkahku padamu, kini biarkan aku merasakan derita yang kau alami dulu. Terimakasih untuk semua perhatian yang kau berikan padaku. Walau sementara, namun semua sangat berharga bagiku."

 Aku kemudian mengetuk pintu dan segera bersembunyi di samping. Terlihat pintu dibukakan oleh Sylvia. Ia mengambil surat yang kuletakkkan di lantai lalu melihat ke sekeliling. Setelah yakin tidak ada orang, dia pun masuk dan menutup pintu. Aku juga segera keluar dari persembunyianku dan beranjak meninggalkan rumah Sylvia.

Aku kembali berbalik menatap ke belakang. Ini adalah terakhir kalinya aku melihatnya. Melihat dirinya yang telah memberikanku jutaan kenangan indah namun hanya mendapat kenangan buruk dariku. Aku yakin di luar sana, dimanapun tempatnya takkan ada gadis setulus dirinya.

0 komentar:

Posting Komentar