Kembali lagi aku merenungkan semua
kesalahan yang telah kuperbuat. Aku telah menyia-nyiakan gadis yang benar-benar
mencintaiku. Aku bahkan tak pernah menanggapi perhatiannya padaku. Berkali-kali
kukecewakan dirinya, namun dia masih selalu berusaha meluluhkan hatiku. Namun
apa daya, saat itu aku belum memiliki perasaan sedikitpun terhadap dirinya.
Aku merasa sangat senang ketika
mendengar bahwa dia telah menjadi kekasih pria lain. Awalnya aku mengira bahwa
hari-hariku akan terasa lebih tenang. Aku yakin ia takkan pernah menasehatiku
untuk rajin belajar demi masa depan seperti yang biasa dikatakannya padaku. Dan
benar, dia tidak lagi memperhatikanku seperti dulu. Ya, seperti kataku tadi.
Awalnya aku mengira semua akan jadi lebih tenang. Maksudku, awalnya.
Setelah waktu bergulir sekian lama
perlahan-lahan hidupku pun terasa semakin sunyi. Kini aku sadar bahwa
satu-satunya gadis yang meramaikan suasana hariku hanyalah Sylvia. Kini dia tak
mungkin memperhatikanku seperti dulu lagi. Tentu saja, kini dia lebih sibuk
dengan kekasihnya.
Di tengah perasaan hatiku yang mulai
menyadari akan berartinya perhatian Sylvia kepadaku, aku pun melihatnya sedang
berdua dengan kekasihnya. Mereka berdua tampak sedang tertawa bahagia. Tak
kusangka, kini hatiku merasa cemburu melihat mereka.
Hari demi hari berlalu dan aku pun
semakin merasa menyesal akan tingkahku selama ini. Aku menyesal telah
menyia-nyiakan ketulusan Sylvia kepadaku dulu. Bahkan kini aku sering merasa
cemburu melihat dia dengan pria lain. Namun apa daya? Semua ini telah terjadi.
Malam ini sebelum aku berangkat ke luar
kota aku hendak memberikan surat yang kutulis pada Sylvia. Aku menuliskannya
dengan harapan agar Sylvia tahu kalau kini aku telah menyesali semua
perbuatanku dulu padanya. Kini aku telah berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
Namun sebelum aku meletakkan surat ini, aku terlebih dahulu membacanya untuk
yang terakhir kali.
"Kau harus tahu. Mungkin
selama ini aku telah menyakitimu. Perhatianmu padaku selalu mendapat penilaian
negatif dariku. Aku merasa kalau kau hanya menggangguku saja. Aku bahkan sempat
berharap untuk tidak pernah mengenalmu. Namun kini semua berbeda. Sejak kau
bersamanya, hari-hariku terasa semakin pekat.
Maafkan aku yang pernah
mengatakanmu bodoh berusaha memikat hatiku. Kumohon maafkan aku yang selama ini
berusaha menjauh darimu. Kini aku sadar bahwa kau adalah gadis yang paling
indah. Namun saat aku baru menyadari semua ini, kau telah menjadi miliknya.
Jangan pernah berfikir untuk
kembali mencintaiku. Akan ada hati yang terluka karenanya. Tapi setialah kepada
dirinya, sebab aku juga melihat ketulusan yang terpancar dari wajahnya padamu.
Mungkin aku takkan bisa melupakanmu. Ya, bagaimana mungkin aku melupakanmu,
sedang yang ada dalam ingatanku hanyalah ketulusan yang selalu kau beri padaku.
Oleh karena itu aku telah
memutuskan untuk menjauh darimu. Walau aku tahu aku akan menderita bila jauh
darimu, tapi akan tetap kulakukan. Sebelumnya kau telah menderita karena
tingkahku padamu, kini biarkan aku merasakan derita yang kau alami dulu.
Terimakasih untuk semua perhatian yang kau berikan padaku. Walau sementara,
namun semua sangat berharga bagiku."
Aku
kemudian mengetuk pintu dan segera bersembunyi di samping. Terlihat pintu
dibukakan oleh Sylvia. Ia mengambil surat yang kuletakkkan di lantai lalu
melihat ke sekeliling. Setelah yakin tidak ada orang, dia pun masuk dan menutup
pintu. Aku juga segera keluar dari persembunyianku dan beranjak meninggalkan
rumah Sylvia.
Aku kembali berbalik menatap ke
belakang. Ini adalah terakhir kalinya aku melihatnya. Melihat dirinya yang
telah memberikanku jutaan kenangan indah namun hanya mendapat kenangan buruk
dariku. Aku yakin di luar sana, dimanapun tempatnya takkan ada gadis setulus
dirinya.







0 komentar:
Posting Komentar